biaya taksiran dalam akuntansi biaya

SISTEM BIAYA TAKSIRAN DEFINISI BIAYA TAKSIRAN Sistem biaya taksiran adalah sistem akuntansi biaya produksi yang menggunakan suatu bentuk biaya-biaya yang ditentukan di muka dalam menghitung harga pokok produk yang diproduksi. Sebagian dari biaya taksiran hampir mirip dengan biaya standar, kedua-duanya merupakan biaya yang ditentukan dimuka. Akan tetapi ada perbedaannya juga, yaitu dalam metode penentuan, pengumpulan, penafsiran dan penggunaannya. Dari perbedaan itu, perbedaan intinya adalah pada metode yang dipakai dalam penentuan norma fisik atau kuantitas. TUJUAN PENGGUNAAN Tujuan penggunaan sistem biaya taksiran adalah: Untuk jembatan menuju sistem biaya standar. Yaitu jika manajemen menginginkan adanya sistem pengendalian dalam perusahaannya, maka manajemen jangan hanya melihat pada kegiatan history saja, akan tetapi juga perlu memperhatikan apa yang akan direncanakan untuk masa mendatang. Untuk menghindari biaya yang relatif lebih besar dalam pemakaian sistem biaya standar. Untuk pengendalian biaya dan analisis kegiatan. Untuk mengurangi biaya akuntansi. PENENTUAN BIAYA TAKSIRAN Biaya taksiran biasanya dipecah menjadi tiga (3) unsur : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Biaya taksiran dapat ditentukan atas dasar data masa yang lalu, dari perhitungan, dari rumus kimia atau matematis, atau secara sederhana dengan taksiaran. Dalam penentuan taksiran biaya bahan baku yang dipakai untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu, perlu dilakukan penaksiran tiap bahan baku yang dibutuhkan dan berapa harganya. Untuk menentukan biaya tenaga kerja, harus diketahui dulu semua jenis kegiatan untuk mengolah produk karena jam tenaga kerja dipengaruhi kemampuan tiap karyawan dan jenis pekerjaannya. Untuk taksiran biaya overhead pabrik yang dibebanakan pada produk berdasarkan pada tarif yang ditentukan dimuka. Dalam menentukan tarif biaya overhead pabrik perlu diadakan pemisahan biaya overhead pabrik dalam unsur biaya tetap dan biaya variabel. PROSEDUR AKUNTANSI DALAM SISTEM BIAYA TAKSIRAN Gambar garis besar aliran biaya dalam sistem biaya taksiran Ada beberapa prosedur dalam pencatatan biaya, yaitu: 1. Prosedur pencatatan biaya bahan baku – Jika metode mutasi persediaan dipakai, pembelian bahan baku dicatat: Persediaan bahan baku xxx Utang dagang xxx – Atas dasar bukti permintaan barang, dicatat pemakaian bahan baku dalam kartu persediaan. Jurnal pemakaian bahan baku: Barang dlm proses Biaya Bahan Baku xxx Persediaan bahan baku xxx – jika metode fisik (physical inventory method) dipakai, pembelian bahan baku dicatat sebagai berikut: Pembelian xxx Utang dagang xxx Biaya bahan baku selama periode dapat dihitung dengan cara: Harga pokok persediaan bahan baku pada awal periode Rp xxx Pembelian xxx + Harga pokok bahan baku yang tersedia untuk produksi Rp xxx Harga pokok persediaan bahan baku pada akhir periode xxx+ Biaya bahan baku selama periode xxx Dalam metode persediaan fisik, jurnal untuk mencatat biaya bahan baku selama periode tertentu adalah: a. Barang dalam proses-biaya bahan baku xxx Persediaan bahan baku xxx (untuk menutup harga pokok persediaan bahan baku awal periode) b. Barang dalam proses-biaya bahan baku xxx Pembelian xxx (untuk menutup rekening pembelian) c. Persediaan bahan baku xxx Barang dalam proses-biaya bahan baku xxx (untuk mencatat harga pokok persediaan bahan baku akhir periode) 2. Prosedur pencatatan biaya tenaga kerja Metode 1 Rekening barang dalam proses didebit dengan BOP yang sesungguhnya terjadi dalam periode ter tentu. Jurnal pencatatan BOP nya adalah: Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx Persediaan suku cadang xxx Akumulasi depresi aktiva tetap xxx Kas xxx Pada akhir periode, BOP yang sesungguhnya terjadi dibebankan pada produk dengan jurnal: Barang dalam proses-Biaya overhead pabrik xxx Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx Metode 2 Rekening barang dalam proses didebit dengan BOP atas dasar tarif yang ditentukan dimuka, jurnalnya: Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx Persediaan suku cadang xxx Akumulasi depresi aktiva tetap xxx Kas xxx Jurnal pencatatan pembebanan BOP pada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka: Barang dalam proses-Biaya overhead pabrik xxx Biaya overhead yang dibebankan xxx Jurnal penutupannya adalah: BOP yang dibebankan xxx BOP sesungguhnya xxx 3. Prosedur pencatatan biaya overhead pabrik Jurnal pencatatan harga produk-produk jadi yang masih dalam proses pada akhir periode adalah: Persediaan produk jadi xxx Persediaan produk dalam proses xxx Barang dalam proses-Biaya bahan baku xxx Barang dalam proses-Biaya tenaga kerja xxx Barang dalam proses-Biaya overhead pabrik xxx 4. Prosedur pencatatan Harga Pokok Produk jadi dan produk yang masih dalam proses pada akhir periode. Jurnal pencatatan harga pokok jadi dan produk yang masih dalam proses pada akhir periode adalah sebagai berikut: Persediaan produk jadi xxx Persediaan produk dalam proses xxx Barang dalam proses-Biaya bahan baku xxx Barang dalam proses-Biaya tenaga kerja xxx Barang dalam proses-Biaya overhead pabrik xxx 5. Prosedur pencatatan harga pokok produk yang dijual Jurnal harga pokok produk yang dijual adalah: Harga pokok penjualan xxx Persediaan produk jadi xxx 6. Prosedur pencatatan selisih biaya taksiran dengan biaya sesungguhnya Jika memakai metode 1 Selisih xxx Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja xxx Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx (Untuk mencatat selisih rugi, yaitu biaya sesungguhnya lebih tinggi dari biaya taksiran) Jika pencatatan biaya overhead pabrik memakai metode 2, maka selisih antara biaya taksiran dengan biaya sesungguhnya dihitung dengan cara: (a) menghitung saldo rekening Barang dan Proses dan (b) menghitung saldo rekening Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya. Selisih tersebut ditransfer ke rekening Selisih dengan dua jurnal sebagai berikut: Selisih xx Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku xx Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja xx Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xx (Untuk mencatat selisih rugi, yaitu jumlah pendebitan rekening Barang dalam Proses lebih tinggi dari jumlah pengkreditannya) Selisih xx Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx (Untuk mencatat selisih rugi, yaitu overhead pabrik sesungguhnya lebih tinggi dari yang dibebankan atas dasar tarif) Contoh 1 PT Eliona memproduksi satu macam produk melalui satu tahap pengolahan. Perusahaan menggunakan sistem biaya taksiran, dan biaya taksiran per kilogram produk adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku 2 kg @ Rp 9 Rp 18 Biaya tenaga kerja 1 jam @ Rp 27 27 Biaya overhead pabrik 1 jam @ Rp 37 37 Biaya taksiran per kilogram produk Rp 82 Data kegiatan perusahaan dalam bulan November 19X7 adalah sebagai berikut 1. Persediaan pada awal bulan November 19X7 a. Harga pokok persediaan bahan baku sebesar Rp. 20.000 b. Jumlah persediaan produk dalam proses sebanyak 3.000 kg dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: biaya bahan baku 100%; biaya konversi 2/3. Harga pokok taksiran persediaan produk dalam proses ini dihitung sebagai berikut: Biaya bahan baku 100% x 3.000 x Rp 18 Rp 54.000 Biaya tenaga kerja 2/3 x 3.000 x Rp 27 54.000 Biaya Overhead pabrik 2/3 x 3.000 x Rp 27 74.000 Jumlah Rp 182.000 c. Persediaan produk jadi berjumlah 500 kg 2. Kegiatan selama bulan November 19X7 a. Pembelian bahan baku sebesar Rp 660.000. b. Jumlah jam tenaga kerja sesungguhnya sebesar 34.500 jam dengan biaya tenaga kerja sebesar Rp 925.000. c. Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif per jam kerja langsung sebesar Rp 37. Biaya overhead pabrik sesungguhnya yang terjadi dalam bulan November berjumlah Rp 1.261.000. d. Produk jadi yang ditransfer ke gudang selama bulan November berjumlah 35.500 kg. e. Produk jadi dijual dengan harga jual Rp 110 per kg. 3. Persediaan pada akhir bulan November 19X7 a. Harga pokok persediaan bahan baku yang ditentukan dengan metode masuk pertama keluar pertama (MPKP) sebesar Rp 40.000. b. Jumlah persediaan produk dalam proses sebanyak 2.500 kg dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: Biaya bahan baku 100%; biaya konversi 20%. c. Persediaan produk jadi berjumlah 1.000 kg. Jurnalnya: 1. Jurnal pembelian bahan baku: Pembelian Rp 660.000 Utang Dagang Rp 660.000 2. Jurnal pencatatan biaya bahan baku yang sesungguhnya dipakai: Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku Persediaan Bahan Baku Rp 640.000 40.000 Persediaan Bahan Baku Pembelian Rp 20.000 660.000 Perhitungan biaya bahan baku sesungguhnya adalah sebagai berikut: Harga pokok persediaan bahan baku pada awal bulan Rp 20.000 Pembelian 660.000 + Rp 680.000 Harga pokok persediaan bahan baku pada akhir bulan 40.000 – Biaya bahan baku selama bulan November Rp 640.000 3. Jurnal pencatatan biaya tenaga kerja sesungguhnya: Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Rp 925.000 Gaji dan Upah Rp 925.000 4. Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk Barang dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Rp 1.276.500 Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan Rp 1.276.500 Perhitungan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif adalah sebagai berikut: 34.500 jam x Rp 37 = Rp 1.276.500 5. Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi selama bulan November. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 1.261.000 Berbagai Macam Rekening yang dikredit Rp 1.261.000 6. Jurnal penutupan rekening Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 1.276.500 Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya Rp 1.276.500 7. Jurnal pencatatan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang Persediaan Produk Jadi Rp 2.911.00 Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku Rp 639.000 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja 958.500 Barang dlm Proses-Biaya Overhead Pabrik 1.313.500 Harga pokok produk jadi ditentukan dengan cara mengalikan kuantitas produk jadi yang sesungguhnya dihasilkan dengan biaya taksiran per satuan. Perhitungan harga pokok produk jadi adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku : 35.500 x Rp 18 Rp 639.000 Biaya tenaga kerja: 35.500 x Rp 27 958.500 Biaya overhead pabrik: 35.500 x Rp 37 1.313.500 Harga pokok taksiran produk jadi Rp 2.911.000 8. Jurnal pencatatan harga pokok persediaan produk dalam proses pada akhir bulan November 19X7. Persediaan Produk dalam Proses Rp 77.000 Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku Rp 45.000 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja 13.500 Barang dlm Proses-Biaya Overhead Pabrik 18.500 Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ditentukan dengan cara mengalikan unit ekuivalensi persediaan produk dalam proses akhir dengan biaya taksiran per satuan. Perhitungan harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku 100% x 2.500 x Rp18 Rp 45.000 Biaya tenaga kerja 13.500 Biaya overhead pabrik 18.500 Harga pokok taksiran persediaan produk dlm proses akhir bulan Rp 77.000 9. Jurnal pencatatan harga pokok produk yang terjual dalam bulan November 19X7. Perhitungan harga pokok produk yang dijual adalah sebagai berikut: Persediaan produk jadi akhir bulan 500 kg Produk selesai bulan November 35.500 36.000 kg Persediaan produk jadi akhir bulan 1.000 – Jumlah produk yang terjual dalam bulan November 35.000 Biaya taksiran per kg produk Rp 82 x Harga pokok penjualan Rp 2.870.000 10. Jurnal pencatatan hasil penjualan bulan November 19X7. Piutang Dagang Rp 3.850.000 Hasil Penjualan Rp 3.850.000 35.000 kg x Rp 110 11. Jurnal pencatatan selisih biaya taksiran dengan biaya sesungguhnya yang terdapat dalam rekening Barang dalam Proses. Selisih Rp 35.000 Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku Rp 10.000 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja 7.000 Barang dlm Proses-Biaya Overhead Pabrik 18.500 Selisih yang terdapat dalam rekening Barang dalam Proses dihitung dengan cara mencari saldo tiap-tiap rekening Barang dalam Proses (lihat Gambar 12.3). 12. Jurnal pencatatan selisih antara biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan yang dibebankan atas dasar tarif. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 15.500 Selisih Rp 15.500 Karena rekening Barang dalam Proses didebit dengan biaya overhead pabrik yang dibebankan atas dasar tarif yang ditentukan di muka, maka selisih antara biaya overhead pabrik yang dibebankan dengan yang sesungguhnya terjadi terdapat dalam dua rekening. Barang dalam Proses (Rp 35.000) dan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya (Rp 15.500). Debit Rekening Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Jam tenaga kerja sesungguhnya x Tarif biaya overhead pabrik per jam 34.500 jam x Rp 37 = Rp 1.276.500 Debit Rekening Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Taksiran jam tenaga kerja x Tarif biaya overhead pabrik per satuan produk 34.500 jam x Rp 37 = Rp 1.258.000 Selisih efisiensi biaya overhead pabrik Rp 18.500 Gambar 12.3 Perhitungan Selisih Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dengan Biaya Overhead Pabrik Menurut Taksiran * Jumlah taksiran jam kerja untuk menghasilkan produk dalam November 19X7 dihitung sebagai berikut: Jumlah produk selesai sebanyak 35.500 kg yang ditransfer ke gudang terdiri dari 3.000 kg produk yang pada awal bulan masih dalam proses dan 32.500 kg sisanya merupakan produk yang berasal dari produksi bulan November 19X7. Karena menurut taksiran setiap 1 kg produk memerlukan 1 jam tenaga kerja, maka perhitungan jumlah taksiran jam tenaga kerja untuk menghasilkan produk dalam bulan November adalah sebagai berikut: Jam tenaga kerja yang digunakan untuk produk yang pada awal bulan masih dalam proses: (1-2/3) x 3.000 kg x 1 jam 1.000 jam Jam tenaga kerja yang digunakan untuk menyelesaikan produk jadi yang berasal dari produksi bulan November: 32.500 x 1 jam 32.500 jam Jam tenaga kerja yang digunakan untuk mengolah produk yang pada akhir bulan November masih dalam proses: 20% 2.500 kg x 1 jam 500 Jumlah jam tenaga kerja 34.000 jam Mengenai biaya overhead pabrik, selisih antara biaya taksiran dengan biaya yang sesungguhnya dapat dibagi menjadi dua macam: (a) Selisih karena perbedaan jam tenaga kerja; (b) Selisih karena perbedaan tarif biaya overhead pabrik. PROSEDUR AKUNTANSI DALAM SISTEM BIAYA TAKSIRAN JIKA PRODUK DIOLAH MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN ika proses produksi melalui lebih dari satu departemen produksi maka perlu digunakan rekening Transfer untuk mencatat harga pokok taksiran produk selesai dari departemen pertama atau departemen lain sebelum departemen terakhir. Contoh 2 PT Eliona Sari memproduksi satu macam produk melalui dua departemen produksi: departemen A dan B. Biaya taksiran tiap kilogram produk tersebut disajikan dalam Gambar 12.6. Unsur Harga Pokok Departemen A Departemen B Jumlah Tiap Unsur __Biaya Produksi_ Biaya bahan baku 5 kg @ Rp 60 Rp 300,00 – Rp 300,00 Biaya tenaga kerja 3,5 jam @ Rp 27 3,0 jam @ Rp 50 94,50 – – Rp 150,00 – 244,50 Biaya overhead pabrik 3,5 jam @ Rp 80 50% dari biaya tenaga kerja 280,00 – ____________ – 75,00 ____________ 355,00 ____________ Jumlah biaya taksiran per kg produk Rp 674,50 Rp 225,00 Rp 899,50 Gambar 12.6 Biaya Taksiran Per Unit Produk Data biaya selama kuartal pertama tahun 19X7 adalah sebagai berikut: a. Biaya tenaga kerja sesungguhnya Departemen A sebesar Rp 287.330 dengan jam tenaga kerja sesungguhnya sebanyak 31.415 jam, sedangkan biaya tenaga kerja sesungguhnya Departemen B sebesar Rp 455.000. b. Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan sebagai berikut: Departemen A : Rp 27 per jam tenaga kerja. Departemen B : 50% biaya tenaga kerja. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam kuartal pertama sebesar Rp. 845.000 (Departemen A) dan Rp 225.000 (Departemen B). c. Pencatatan biaya bahan baku memakai metode mutasi persediaan. Biaya bahan baku sesungguhnya sebesar Rp 925.000. d. Jumlah produk yang terjual sebanyak 2.700 kg dengan harga Rp 1.000 per kg. Data produksi selama kuartal pertama tahun 19X7 disajikan dalam Gambar 12.7. Data Produksi Departemen A Departemen B a. Persediaan produk dalam proses pada awal periode, dengan tingkat penyelesaian: Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 60%, bak untuk Departemen A maupun B 100 kg 200 kg b. Jumlah produk yang dimasukkan dalam proses 3.100 – c. Jumlah produk yang diterima dari Departemen A – 3.000 d. Jumlah produk yang ditransfer ke Departemen B 3.000 – e. Produk selesai yang ditransfer ke gudang – 3.100 f. Persediaan produk dalam proses pada akhir periode, dengan tingkat penyelesaian: biaya bahan baku 100%, konversi 40%, bak untuk Departemen A maupun Departemen B 200 100 Gambar 12.7 Data Produksi Atas dasar data tersebut di atas jurnal-jurnal yang perlu dibuat untuk mencatat kegiatan PT El Sari selama kuartal tahun 19X7 adalah sebagai berikut: 1. Jurnal pencatatan biaya bahan baku yang dipakai: Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen A Rp 925.000 Persediaan Bahan Baku Rp 925.000 2. Jurnal pencatatan biaya tenaga kerja di Departemen A: Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen A Rp 287.330 Gaji dan Upah Rp 287.330 3. Jurnal pencatatan pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk di Departemen A, atas dasar tarif yang ditentukan di muka: Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen A Rp 848.205* Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 848.205 *31.415 x Rp 27 = Rp 848.205 4. Jurnal pencatatan harga pokok taksiran produk selesai yang ditransfer dari Departemen A ke Departemen B. Transfer Departemen A Rp 2.203.500 Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku Rp 925.000 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Perhitungan harga pokok taksiran produk selesai yang ditransfer dari Departemen A ke Departemen B adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku 3.000 x Rp 300,00 Rp 900.000 Biaya tenaga kerja 3.000 x 94,50 283.500 Biaya overhead pabrik 3.000 x 280,00 840.000 Jumlah Rp 2.023.500 5. Jurnal pencacatan biaya tenaga kerja di Departemen B: Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B Rp 455.000 Gaji dan Upah Rp 455.000 6. Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk Departemen B atas dasar tarif yang ditentukan di muka. Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen B Rp 227.500* Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 227.500 *50% x Rp 455.000 = Rp 277.500 7. Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai yang ditransfer dari departemen B ke gudang. Persediaan Produk Jadi Rp 2.788.400 Transfer Departemen A Rp 2.090.000 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen B 465.000 Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen B 232.000 Perhitungan harga pokok taksiran produk selesai yang ditransfer departemen B ke gudang adalah sebagai berikut: Harga pokok taksiran yang berasal dari departemen A (dikreditkan dalam rekening Transfer Departemen A) 3.100 kg x Rp 674,50 Biaya yang ditambahkan dalam departemen B Rp 2.090.950 Biaya tenaga kerja 3.100 kg x Rp 150 465.000 Biaya overhead pabrik 3.100 kg x Rp 75 232.500 Jumlah Rp 2.788.450 8. Jurnal pencatatan harga pokok taksiran produk yang terjual. Harga Pokok Penjualan Rp 2.428.650*) Persediaan Produk Jadi Rp 2.428.650 *)2.700 x Rp 899,50-Rp 4.428.650 9. Jurnal pencatatan harga pokok taksiran persediaan produk yang masih dalam proses pada akhir periode di departemen A dan B. Persediaan Produk dalam Proses-Departemen A Rp 89.960 Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen A Rp 60.000 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen A 7.560 Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen A 2.400 Persediaan Produk dalam Proses-Departemen B Rp 76.450 Transfer Departemen A Rp 67.450 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen A 6.000 Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen A 3.000 Perhitungan tenaga pokok taksiran produk yang masih dalam proses pada akhir periode di Departemen A dan B disajikan dalam Gambar 12.8. 10. Jurnal pencacatan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi di Departemen A dan B. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 1.070.000* Berbagai Macam Rekening yang dikredit Rp 1.070.000 Departemen A Rp 845.000 Departemen B 225.000 Jumlah Rp 1.070.000 Unsur Harga Pokok Departemen A Transfer Departemen A Departemen B Biaya Bahan Baku 200 x 100% x Rp 300 Rp 60.000 – – 100 x 100% x Rp 300 – Rp 30.000 – Biaya Tenaga Kerja – – 200 x 40% x Rp 94,50 7.560 9.450 – 100 x 100% x Rp 94,50 – – Rp 6.000 100 x 40% x Rp 150 – – – Biaya Overhead Pabrik 200 x 40% x Rp 280 22.400 28.000 – 100 x 100% x Rp 280 – – 3.000 100 x 100% x Rp 75 – ____________ Harga pokok persediaan produk dalam proses pada akhir periode di departemen A Rp 89.900 ____________ ____________ Biaya dari departemen A yang melekat pada persediaan produk dalam proses akhir periode di departemen B Rp 67.450 ____________ Harga pokok yang ditambahkan oleh departemen B yang melekat pada persediaan produk dalam proses akhir departemen B Rp 9.000 Gambar 12.8 Perhitungan Harga Pokok Persediaan Produk dalam Proses 11. Jurnal penutupan rekening Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 1.075.705* Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 1.075.705 * Departemen A Rp 848.205 Departemen B 227.500 Jumlah Rp 1.075.705 12. Jurnal pencacatan selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya taksiran yang terdapat dalam rekening Barang dalam Proses. Barang dalam Proses-Biaya Bahan Departemen A Selisih Rp 5.000 2.545 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen A Rp 1.940 Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen A 2.605 Barang dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen B 2.000 Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen B 1.000 Perhitungan selisih tersebut dilakukan dengan menghitung saldo rekening Barang dalam proses masing-masing departemen dengan cara mengurangi jumlah pendebitan dengan jumlah pengkreditan masing-masing rekening tersebut. Dalam contoh ini, harus dihitung lebih dahulu harga pokok taksiran persediaan produk yang pada awal periode masih dalam proses disajikan dalam Gambar 12.9. Unsur Harga Pokok Departemen A Transfer Departemen A Departemen B Biaya Bahan Baku 100 x 100% x Rp 300 Rp 30.000 – – 200 x 100% x Rp 300 – Rp 60.000 – Biaya Tenaga Kerja 100 x 60% x Rp 94,50 5.670 – – 200 x 100% x Rp 94,50 – 18.900 Rp 18.000 200 x 60% x Rp 150 – – Biaya Overhead Pabrik 100 x 60% x Rp 280 16.800 – – 200 x 100% x Rp 280 – 56.000 – 200 x 60% x Rp 75 – ____________ – ____________ 9.0000 ____________ Jumlah Rp 52.470 Rp 134.900 Rp 27.000 Gambar 12.9 Harga Pokok Taksiran Persediaan Produk dalam Proses Awal Jika jurnal-jurnal tersebut di atas dan harga pokok persediaan produk dalam proses awal dibukukan dalam rekening buku besar, maka saldo rekening Barang dalam Proses dapat dihitung dan jumlah tersebut merupakan selisih. Selisih di Departemen A Selisih biaya bahan baku Rp 5.000 L Selisih biaya tenaga kerja 1.940 R Selisih biaya overhead pabrik 2.605 R Selisih di Departemen B Selisih biaya tenaga kerja Rp 2.000 R Selisih biaya overhead pabrik 1.000 R 13. Jurnal pencatatan selisih antar overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead pabrik yang dibebankan. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 5.075 Selisih Rp 5.075 PERLAKUAN TERHADAP SELISIH Selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya taksiran dalam suatu periode akuntansi dapat diperlakukan sebagai berikut: a. Ditutup ke rekening Harga Pokok Penjualan atau rekening Rugi Laba. b. Dibagikan secara adil kepada produk selesai dalam periode yang bersangkutan, yaitu dibagikan ke rekening Produk Jadi dan Harga Pokok Penjualan. c. Dibagikan secara adil ke rekening-rekening: Persediaan Barang dalam Proses, Persediaan Produk Jadi, dan Harga Pokok Penjualan. d. Membiarkan selisih-selisih tersebut tetap dalam rekening Selisih, sehingga rekening ini berfungsi sebagai deferred account. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan selisih-selisih yang terjadi di antara periode akuntansi akan saling menutup (mengkompensasi). Dasar pembagian selisih dapat berupa: a. Perbandingan kuantitas persediaan produk dalam proses, persediaan produk jadi dan produk yang terjual. Kuantitas ini dinyatakan dalam unit ekuivalensi. b. Perbandingan harga pokok persediaan produk dalam proses, harga pokok persediaan produk jadi dan harga pokok produk yang terjual. Pembagian selisih ada 2 metode cara, yaitu:  Pembagian Selisih atas Dasar Perbandingan Kuantitas Persediaan Produk dalam Proses, Persediaan Produk Jadi, dan Produk yang Terjual  Pembagian Selisih Atas Dasar Harga Pokok Persediaan Produk dalam Proses, Persediaan Produk Jadi, dan Harga Pokok yang Terjual

Tentang evaoktaviagunawan

liat aja sendiri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s